Candi Sukuh Karanganyar, peninggalan majapahit

By | November 28, 2019

Candi sukuh ini adalah salah satunya situs Warisan Dunia yang diusulkan oleh UNESCO semenjak tahun 1995.

Situs ini diketemukan pertama-tama pada tahun 1815 oleh Johnson yang ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk kumpulkan data buat pengaturan buku History of Java.

Bentuk Candi Sukuh sendiri lumayan sederhana seperti trapesium serta mirip kuil Suku Maya Chichen Itza di Meksiko, tetapi dengan bentuk bangunan yang tidak rapi serta seperti dibikin dengan terburu-buru.

Kehadiran candi ini cukup polemis adanya beberapa relief yang memvisualisasikan erotisme yang cukup vulgar.

Serta candi ini sama dengan beberapa mitos yang erat hubungannya dengan kesetiaan pasangan.

Tempat: Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi ini diketemukan oleh arkeolog pada saat pemerintahan Gubernur Raffles tahun 1815. Usaha pelestarian komplek candi ini dikerjakan oleh Dinas Purbakala semenjak tahun 1917. Konon, candi ini dibangun pada era ke 15 masehi sewaktu dengan pemerintahan Suhita, Ratu Majapahit yang memerintah pada tahun 1429-1446. Julukan yang diserahkan kepada candi yang telah cukup tua ini ialah “The Last Temple” sebab candi ini adalah candi peninggalan umat Hindhu yang paling akhir pada zaman Majapahit.

Awalannya kehadiran candi ini jadi hal yang polemis jadi tempat wisata sebab ada banyak arca atau patung yang memvisualisasikan alat reproduksi manusia. Diluar itu bentuk Candi Sukuh ini populer benar-benar unik sebab berlainan dengan candi Hindhu biasanya. Bentuk candi ini ialah trapesium serta seperti dengan candi peninggalan suku Maya. Oleh sebab keunikannya karena itu candi ini jadi candi yang benar-benar menarik di daerah asia tenggara. Pada tahun 1995, Candi sukuh diserahkan ke UNESCO jadi salah satunya warisan dunia.

Menurut sangkaan beberapa pakar, Candi Sukuh dibuat untuk arah pengruwatan, yakni mencegah atau melepas kemampuan jelek yang memengaruhi kehidupan satu orang karena beberapa ciri tersendiri yang dipunyainya. Sangkaan itu didasarkan pada relief-relief yang berisi cerita-cerita pengruwatan, seperti Sudamala serta Garudheya, serta pada arca kura-kura serta garuda yang ada di Candi Sukuh . Di sini anda akan disajikan keindahan dari patung, arca, prasasti, dan relief-relief di sekitaran atau di candi.

Situasi sakral di ruang candi ini masih dapat Anda alami. Karena ada banyak sesajen yang menyengaja digeletakan di setiap pojok bangunan candi. Dengan keluarkan uang sebesar Rp 3.000 saja Anda bebas menyelami setiap pojok ruang candi. Tetapi jangan berani nekat hadir kesana pada saat siang hari. Anda tidak akan senang berjalan-jalan ke semua ruang candi, karena kabut cepat turun serta menutupi lokasi candi bersejarah ini. Berlainan dengan umumnya candi hindu, candi peninggalan kerajaan majapahit ini tidak menghadap mengarah keluar matahari, tetapi mengarah barat. Dari sisi arsitektur juga tidak seperti candi lain yang melambangkan gunung semeru, tetapi mempunyai pucuk piramida terpotong, diluar itu ada teras bertingkat dengan satu anak tangga ditengah-tengah, dan beberapa monolit serta patung besar yang mengitarinya.

Candi Sukuh mempunyai tiga teras serta tiap teras anda akan disajikan kekhasan yang berlainan. Pada teras pertama adalah gerbang penting untuk masuk candi selanjutnya diteruskan ke teras ke dua ada gapura yang telah rusak serta tidak utuh . Di samping kanan serta samping kiri gapura itu ada patung dwarapala yang disebut patung penjaga gapura itu. Berjalan ke arah teras ke-3 karena itu anda dapat lihat ada pelataran yang cukup besar tempat Candi Sukuh ada. Teras ke tiga ini adalah teras paling akhir serta yang paling penting.

Waktu Anda naiki anak tangga dalam lorong gapura, akan disajikan relief yang dapat disebut cukup erotis serta vulgar terpahat di lantai. Relief ini memvisualisasikan phallus yang bertemu dengan vagina. Sebetulnya relief itu bukan vulgar atau porno, tetapi relief ini ialah simbol kesuburan, ada filosofi yang terdapat di dalamnya. Relief itu sebenarnya memiliki kandungan arti yang dalam. Relief itu menyengaja dipahat di lantai pintu masuk bermaksud supaya siapapun yang langkahi relief itu semua kotoran yang menempel di tubuh jadi pupus karena telah terserang suwuk.

Dari narasi nenek moyang juru kunci Candi Sukuh, relief ini untuk tes keperawan calon pengantin. Pengantin lelaki yang ingin mengetes kesetiaan calon istrinya, ia akan minta kekasihnya langkahi relief ini. Sinyal jika calon pengantian masih perawan ataukah tidak akan dapat dibuktikan dengan keadaan kain kebaya yang dipakai waktu langkahi relief. Bila kain kebaya yang dipakainya robek atau terjatuh, karena itu ia masih perawan. Namun kebalikannya, bila kainnya cuma lepas, sang istri dipercaya sudah tidak perawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *