Pura mangkunegaran, mengulik kehidupan kerajaan di surakarta

By | November 23, 2019

Pura mangkunegaran terletak di kota surakarta, Buat anda yang suka bertandang ke Yogyakarta untuk nikmati sajian riwayat serta budaya yang ditawarkan kota ini, anda akan nikmati bertandang ke Kota Surakarta atau Solo. Nyatanya, serta sebelum berdirinya Kesultanan Yogyakarta, Solo juga mempunyai Kerajaan yang berjaya.

Jaman dulu Kerajaan Mataram adalah salah satunya kerajaan besar di Pulau Jawa. Keturunan serta kerabat Kerajaan Mataram lah yang saat ini pimpin Kesultanan di Kota Solo serta Yogyakarta. Pada saat itu, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I membangun Praja Mangkunegaran atau Kerajaan Mangkunegaran di Kota Surakarta. Daerah kekuasaan Mangkunegaran juga terbentang luas mencakup wilayah Sragen, Karanganyar serta Imogiri.

Pusat pemerintahaan Praja Mangkuneragan ini berada di samping Selatan Sungai Pepe serta seringkali dikatakan sebagai Pura Mangkunegaran. Disadari dengan sah sesudah diselenggarakannya kesepakatan Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757. Karena itu, bila anda bertandang ke salah satunya wisata Solo ini, karena itu anda akan lihat bangunan pada jaman penjajahan Belanda serta dapat kenal makin banyak riwayat kesultanan serta kerajaan di Surakarta.

Eksplorasi Pura Mangkunegaran
Nama Pura datang dari bahasa Jawa berarti Istana atau Kerajaan, Pura Mangkunegaran ini tidak hanya kaya sejarahnya populer dengan kombinasi arsitektur Jawa serta Eropa di bagian interior sampai ornamen-ornamen di sejumlah sudutnya. Sesudah melalui pintu gerbang penting istana, anda dapat lihat Pamedan, satu tempat training prajurit pasukan Mangkunegaran. Dihalaman Pura Mangkunegaran ini juga ada gedung kecil bergaya Belanda yang tertulis Kavalerie-Artilerie yang dahulunya sesuatu tempat latihan beberapa pasukan berkuda.

Melalui pintu gerbang ke-2, anda akan dibawa lihat pendopo besar dengan luas seputar 3.500 mtr. persegi. Besarnya Pendopo Ageng ini bisa memuat sampai 10.000 orang, loh! Khasnya , dulu semua bangunan pendopo ini juga dibuat tanpa ada paku. Diluar itu, warna ciri khas keluarga Mangkunegaran menguasai pendopo ini, yaitu warna Pari Anom kuning serta hijau.

Pada langit-langit pendopo, anda akan lihat hiasan jelas yaitu astrologi Hindu-Jawa yang digantungi dengan lampu-lampu antik. Bukan sekedar mempunyai luas yang mempesona, bila anda masuk dalam pendopo ini, anda juga bisa rasakan nuansa Jawa yang ciri khas. Di sini ada bermacam macam gamelan pusaka seperti gamelan Kyai Seton, gamelan Kyai Kanyut Mesem serta gamelan Lipur Sari. Tiga set gamelan di Pura Mangkunegaraan ini juga dimainkan, namun cuma satu yang dimainkan dengan teratur serta gamelan yang lain cuma dimainkan dalam upacara-upacara tersendiri saja.

Taman sebagai cagar alam serta Teras Dalam
Tidak hanya menyuguhkan pendopo besar, kemegahaan bangunan Pura ini diperlengkapi dengan taman cantik yang ditumbuhi pohon-pohon berbunga serta semak-semak hias. Taman di Pura Mangkunegaraan ini juga adalah cagar alam, dimana ada sangkar burung sampai patung-patung classic bergaya Eropa dan air mancur yang memberkan situasi tenang serta alami.

Anda dapat lihat ruangan bersudut delapan atau bangunan yang bernama Teras Dalam dengan dihiasi lilin sampai bermacam perlengkapan Eropa yang indah. Bangunan bersudut delapan ini dahulunya dipakai untuk melayani tamu-tamu kerajaan, jadi jangan bingung bila anda masuk keruang ini serta lihat kaca-kaca berbingkai emas yang memikat terpasang di selama dinding bangunan.

Diluar itu, bila anda masuk lebih dalam Istana Mangkunegaran, anda akan lihat indahnya ruangan makan dengan jendela kaca yang menyuguhkan panorama alam. Anda juga serta bisa lihat kamar mandi kerajaan yang indah, sampai ruangan ubah dan ruangan rias beberapa putri pangeran adipati, lho!

Bermacam benda pusaka serta perpustakaan
Bertandang ke Istana Mangkunegaraan serta masuk ruangan Pringgitan, karena itu anda akan lihat beberapa benda peninggalan Kraton Mangkunegaran. Dari sejak luar bangunan juga anda akan disuguhi foto-foto bagian keluarga kerajaan serta sesudah masuk ruang, anda akan lihat beberapa barang antik punya Kraton seperti baju yang digunakan oleh beberapa penari Bedoyo Ketawang, yang disebut salah satunya tarian yang dipandang sakral oleh masyarakat ditempat.

Diluar itu, ruangan Pringgitan ini menyuguhkan bermacam uang logam kuno, perhiasan-perhiasan antik, dan senjata-senjata yang disebut hadiah dari beberapa negara. Anda dapat lihat bermacam keris dan perlengkapan minum dan makan yang dibuat dari perak sampai kristal, tidak itu saja, bermacam macam pernak pernik memiliki bahan fundamen emas atau perak dapat mengundang perhatian anda.

Bukan sekedar memperlihatkan benda pusaka, di Pura Mangkunegaran ada Perpustakaan atau Rekso Pustoko yang dibangun pada tahun 1867 oleh Mangkunegara IV. Perpustakaan ini terdapat di lantai dua, di atas kantor Dinas Masalah Istana serta disamping kiri Pamedan. Perpustakaan ini cukup fresh sebab daun jendelanya dibuka lebar-lebar serta membuat cahaya matahari bisa masuk. Anda dapat lihat buku-buku beberapa bahasa terutamanya Bahasa Jawa serta bisa lihat koleksi-koleksi photo bersejarah sampai data-data tentang perkebunan serta kepemilikan Mangkunegaraan yang lain.

Dinner ala Kerajaan Mangkunegaraan
Oh Iya! Bila anda bertandang ke Mangkunegaran, janganlah lupa untuk ikuti Mangkunegaran Royal Dinner. Acara ini seringkali jadi favorite wisatawan asing yang bertandang ke Pura Mangkunegaran. Dengan beli paket dinner anda akan nikmati makanan ciri khas Kraton Mangkunegaran seperti garang asem bumbung, sambel goreng bledak, pecel pitik, lodoh pindang sampai puding tape jadi makanan penutup. Dinner ala Kerajaan Mangkunegaraan ini sudah populer sampai jadi daya tarik sendiri buat wisatawan luar negeri terutamanya wisatawan yang datang dari Jerman, Belanda, Italia serta Perancis.

Masjid Al-Wustho Mangkunegaran
Bila bertandang ke Pura Mangkunegaran, anda dapat berkunjung ke Masjid Al-Wustho. Masjid ini adalah satu dari tiga masjid tua serta bersejarah di Kota Surakarta, dengan Masjid Darusalam serta Masjid Agung Surakarta. Pembangunan Masjid Al-Wustho ini diprakarsai oleh Pangeran Mangkunegara I serta jadi masjid kerajaan buat Pura Mangkunegaran.

Sebab sebelumnya Masjid Al-Wustho adalah masjid kerajaan, karena itu masjid ini cuma ditujukan buat beberapa keluarga kerajaan. Namun, berjalan seiringnya waktu, masjid juga dibuka untuk warga umum. Masjid Mangkunegaran ini dibuat berbentuk arsitektur ciri khas Jawa yang konon dalam pembangunannya menyertakan satu orang arsitek dari Perancis.

Masjid Al-Wustho di Pura Mangkuneragan ini menyuguhkan keindahan ukiran-ukiran kaligrafi yang digambar dari mulai depan gapura masjid sampai kedalamnya. Mempunyai luas seputar 4.200 mtr. persegi, masjid ini memilki tembok gapura dengan ukiran ayat-ayat Al-Quran yang berupa kerucut. Kekhasan lain pada masjid Al-Wustho ada nukilan-nukilan ayat Al-Quran serta Hadits yang menghiasi bagian-bagian masjid. Ruangan penting di masjid ini mempunyai 4 saka guru atau tiang penting dan 12 tiang penambahan serta setiap tiang-tiang juga berhiaskan kaligrafi Arab.

Wisata di wilayah Pura Mangkunegaraan
Tidak hanya Masjid Al-Wustho, wisata Solo Pura Mangkunegaraan ini terdapat di tempat strategis serta dekat sama pusat berbelanja seperti Pasar Triwindu, Pasar Ngarsopuro serta Museum Batik Danar Hadi. Anda dapat bertandang ke Museum Wartawan Nasional sampai Loji Gandrung yang dahulunya adalah museum terlengkap serta paling baik pada saat pemerintahan Pakubuwono IX serta Pakubuwono X. Loji Gandrung ini jadi rumah dinas walikota Solo, serta pernah dihuni oleh Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo pada eranya memegang jadi walikota Solo.

Langkah ke arah Pura Mangkunegaraan
Pura Mangkunegaraan ini teletak di tempat strategis Kota Surakarta. Bila anda ingin ke arah Pura Mangkunegaran dari Kota Yogyakarta, anda bisa memakai kendaraan umum jurusan Solo serta turun di Terminal Tirtonadi. Kemudian diteruskan dengan memakai angkutan kota yang melalui Jl. Urip Sumoharjo. Anda dapat juga memakai kereta api dari stasiun Lempuyangan serta Tugu Jogja, turun di Stasiun Jebres serta diteruskan dengan naik becak atau taksi.

Bila anda memakai kendaraan pribadi, anda bisa tempuh perjalanan Jogja-Solo ini dengan waktu wartu 1,5- 2 jam. Dengan lewat rute Jl. Laksda Adisucipto ke arah Jl. Raya Solo serta lanjut ke arah Jl. Diponegoro melalui pasar Triwindu serta ke arah Jl. Ronggowarsito, Keprabon, Banjarsari, Surakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *